Prof Dahlan Bersyukur Program Penggemukan Sapi Lamtoro Dapat Respons Luas

Home / Pendidikan / Prof Dahlan Bersyukur Program Penggemukan Sapi Lamtoro Dapat Respons Luas
Prof Dahlan Bersyukur Program Penggemukan Sapi Lamtoro Dapat Respons Luas Prof Ir Dahlanuddin, M. RUR.Sc.,Ph.D (baju putih) yang mengetuai Tim Manajemen Konsorsium Riset Ruminansia Besar (KRRB) Univeritas Mataram. (FOTO: Abdul Muis/TIMES Indonesia)

TIMESFLORES, DOMPU – Bukan rahasia umum lagi bahwa program penggemukan sapi berbasis daun lamtoro atau dikenal Sapi Lamtoro berasal dari Tim Manajemen Konsorsium  Riset Ruminansia Besar (KRRB) Universitas Mataram. Adalah Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc, Ph.D yang mengomandani proyek koridor ekonomi Bali-NTB 2018 ini.

Ditemui TIMES Indonesia, pria yang gelar profesornya diraih di University of New England Australia pada 1998 ini selalu bersyukur setelah daging Sapi Lamtoro itu mendapat respons positif.

Bukan hanya Bupati Dompu H Bambang M Yasin dan profesor dari Massey University of New Zealand, Prof DR Chris Anderson, yang mengapresiasi empuk dan enaknya daging Sapi Lamtoro. Tapi juga para pelaku bisnis dan pejabat muspika Dompu yang hadir di acara uji kualitas daging sapi pemakan lamtoro di SMKN Dompu, Selasa (9/10/2018).

Prof Dahlan yang memandu sendiri acara tersebut selalu tersenyum mendengar testimoni para penilai. Apalagi semua yang mencicipi daging Sapi Lamtoro yang diramu dalam sajian sup, steak dan ham, merasakan empuk dan enaknya daging  tersebut. 

Para penikmat mengakui daging sapi pemakan lamtoro ini sudah selayaknya dikonsumsi tamu di hotel berbintang lima. Bahkan, ada yang menilai kualitasnya bagus karena daging organik.

Menurut Prof Dahlan jenis tumbuhan lamtoro yang ada di Dompu sama dengan yang ditanam peternak di Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Besar (KSB). "Kami memilih lamtoro karena bisa tumbuh subur di daerah ini, walaupun saat musim kemarau," jelasnya.

Bibit tanaman lamtoro itu, menurutnya, tidak ada di negeri kita. "Jenis lamtoronya bukan lamtoro gung. Bukan!" tegasnya. "Namanya lamtoro leukaena taramba," imbuh Prof Dahlan. Dan, bibitnya ada di Australia.

Lamtoro jenis ini dia kenal sejak berada di Negeri Kanguru itu. Yakni ketika Prof Dahlan studi di University of New England untuk meraih gelar M. Rur.Sc in Animal Science dan Ph.D. in Ruminant Nutrition.

Dari makan lamtoro leukaena taramba itulah, sapi di Sumbawa, KSB dan Dompu kini rasa dagingnya berbeda dengan daging sapi pada umumnya.

Sapi yang memakan daun lamtoro  itu berusia satu setegah tahun. "Enam bulan makan lamtoro, Sapi Lamtoro hasilnya sudah kelihatan," jelasnya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com